Mata sipit itu kini tampak kosong saat melihat bangunan tua yang telah menyaksikan semua
perjuangannya selama dua tahun terakhir. Gedung sekolah itu terlihat rapuh, dengan atap bocor
di banyak tempat, jendela-jendela yang penuh retakan, dan cat yang sudah mengelupas. Namun,
sekolah itu tetap menjadi satu-satunya tempat belajar bagi anak-anak di daerah terpencil ini.
Kania adalah salah satu dari mereka yang dengan semangat besar terus belajar di sana.
“Ayo, kita masuk!” Suara Bu Farida membuyarkan lamunan Kania yang sedang berdiri di atas
hamparan tanah berumput liar.
Gadis remaja itu menoleh dan tersenyum tipis. Ada rasa bangga tersirat di senyum guru paruh
baya itu—seorang perempuan yang setia mengajar meski hanya sebagai tenaga honorer selama
puluh tahun lamanya.
“Iya, Bu,” jawabnya dengan sopan.
Mereka berjalan bersama menuju kelas, tetap dengan senyum penuh rasa syukur karena gedung
tua itu, meski tidak layak, adalah tempat mereka menuntut ilmu.
“Nanti mau sekolah SMA di mana setelah lulus?” Bu Farida bertanya sambil menatap Kania.
Dalam sekali tatapan wanita paruh baya itu, seolah tersirat banyak harapan yang ia berikan di
pundak gadis remaja itu.
“Entahlah, Bu. Semua sekolah jauh, dan sepertinya orang tua saya tidak mampu membiayai,”
jawab Kania lirih, menundukkan kepala. Ia kadang merasa malu memiliki mimpi yang tinggi
sementara kondisi keluarganya tidak mendukung.
“Jangan pernah berpikir seperti itu. Banyak berdoa dan belajar dengan serius. Siapa tahu
keajaiban bisa terjadi,” nasihat Bu Farida dengan lembut.
Inilah jiwa seorang guru sejati—selalu berusaha memberi motivasi dan sugesti positif kepada
murid-muridnya. Meskipun di tengah kemustahilan yang dihadapi oleh Kania.
“Aamiin, Bu,” balas Kania dengan senyum penuh harapan.
“Kamu anak yang pintar. Ibu berharap kamu bisa melanjutkan pendidikan sampai ke perguruan
tinggi. Ibu tidak mau kamu menikah muda seperti banyak gadis di daerah ini.”
Pernyataan itu bukan sekadar kekhawatiran tanpa alasan. Pernikahan dini masih sering terjadi di
desa mereka. Banyak gadis seusia Kania yang setelah lulus SMP langsung menikah, meski harus
melalui prosedur di pengadilan agama dan membayar denda.
“Aamiin, Bu. Saya juga ingin melanjutkan sekolah. Doakan saya, ya, Bu,” Kania berkata dengan
suara bergetar.
Bu Farida mengangguk mantap. Ia tahu, Kania adalah harapan terbesar sekolah ini—anak yang
tidak hanya pintar tetapi juga memiliki semangat juang yang tinggi. Baru-baru ini, Kania bahkan
berhasil meraih juara dua dalam lomba pidato bahasa Inggris tingkat kabupaten. Itu pencapaian
luar biasa, mengingat ia hanya belajar dari buku sekolah tanpa akses internet karena di daerah
mereka tidak ada sinyal.
Hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan. Tak terasa, lebih dari setahun sudah berlalu
sejak Bu Farida memberi nasihat kepada Kania. Sekarang gadis itu duduk di kelas IX dan bersiap
menghadapi ujian akhir semester.
“Pak, saya harap Bapak bisa mendukung Kania melanjutkan sekolah ke SMA. Dia anak yang
cerdas, selalu meraih peringkat pertama sejak kelas VII,” Bu Farida mengungkapkan harapan
tulusnya.
Pak Nasrul, ayah Kania, hanya terdiam. Ia hanyalah buruh tani yang bekerja untuk juragan tanah
di desa mereka. Pujian Bu Farida membuatnya bangga, tetapi ia tidak tahu harus menjawab apa.
Biaya sekolah bukanlah jumlah yang kecil bagi keluarganya. Untuk makan saja, mereka sering
kali kekurangan.
“Pak…” Kania memanggil lembut, menatap ayahnya dengan harapan besar.
Hening. Tidak ada jawaban dari lelaki paruh baya itu. Namun, dari diamnya, Kania tahu
jawabannya. Harapannya perlahan memudar, meski setiap malam ia tidak pernah lelah berdoa
kepada Sang Pemilik Semesta. Berhadap ada keajaiban, meski ia tidak tahu lewat perantara
siapa.
“Saya akan pikirkan lagi, Bu,” akhirnya suara berat Pak Nasrul terdengar.
Tidak ada janji pasti, hanya sekadar pertimbangan yang entah berujung pada harapan atau
kepasrahan.
“Baik, Pak. Mohon dipertimbangkan dengan baik. Kania sangat layak mendapatkan pendidikan
yang lebih tinggi,” Bu Farida menyatakan dengan tegas.
Pak Nasrul hanya mengangguk, lalu mengajak Kania pulang dengan motor tua yang sudah pria
itu miliki sejak tahun 90-an. Dalam perjalanan, Kania hanya diam. Ia ingin meminta, ingin
memohon, tetapi ia tahu tak ada gunanya memaksakan keadaan jika semuanya belum
memungkinkan.
Sesampainya di rumah, ibunya, Bu Nur, menyambut mereka.
“Sudah pulang, Pak, Nduk?” tanyanya.
“Sudah, Bu,” jawab Kania dan ayahnya hampir bersamaan.
“Bagaimana hasil rapormu, Kania?”
“Alhamdulillah, masih peringkat satu,” jawabnya datar. Kebanggaan itu ada, tetapi perasaan
bersalah karena keadaan juga menghantuinya. Rasanya ingin menangis, tapi ia malu pada anak
dan istrinya.
“Alhamdulillah. Ibu bangga sekali. Semoga kita punya rezeki agar kamu bisa sekolah di kota,”
Bu Nur berharap.
“Terimakasih Bu, Kania doakan semoga Ibu dan Bapak punya banyak rezeki untuk Kania
melanjutkan SMA,”
“Aamiin Ya Allah.”
Kania lantas memeluk dengan senyum yang muncul di wajahnya. Meskipun harapan itu kecil,
keyakinannya pada keajaiban tetap ada. Bukankah Tuhan itu Maha Kaya?
Waktu terus berlalu. Ujian akhir semakin dekat, tetapi kondisi ekonomi keluarganya tak kunjung
membaik. Kania tetap yakin bahwa Tuhan akan membukakan jalan. Ia belajar dan berdoa tanpa
lelah.
Hingga akhirnya, hari kelulusan tiba. Hari yang sangat di tunggu-tunggu oleh Kania. Akan tetapi
menjadi hari yang cukup menegangkan untuknya.
Kania pulang membawa kabar gembira, tetapi wajahnya tetap murung. Masa depannya untuk
bisa melanjutkan pendidikannya akan dipertaruhkan sebentar lagi di depan kedua orang tuanya.
Ia benar-benar tidak yakin akan mendapatkan dukungan secara materi dari dua sosok panutan
yang selalu ada untuk dirinya itu.
“Pak, Bu, Kania peringkat satu lagi. Tidak bisakah aku melanjutkan sekolah ke SMA?” tanyanya
penuh harap, meski suaranya bergetar dengan rasa putus asa.
Bu Nur menatapnya sedih. Wajah Kania tertunduk dengan air mata berkaca-kaca sekarang.
“Maaf, Nduk. Ibu dan Bapak benar-benar tidak punya uang.”
Kania menghela napas panjang. Ia ingin menangis, tetapi ditahannya. Ingin marah pada takdir,
tapi dia tidak di ajarkan untuk itu.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu. Dengan cepat, Kania membukanya.
“Bu Farida?” sapanya kaget. Ia tidak menyangka gurunya itu akan datang ke rumahnya.
Perasaannya mulai tidak tenang, takut ada kabur yang tidak baik yang akan di bawa oleh
perempuan paruh baya itu.
“Kania, ada kabar baik! Kamu bisa melanjutkan SMA,” ujar Bu Farida dengan binar bahagia di
matanya. Langsung saja Bu Farida mengatakannya.
“Yang benar, Bu?” Mata Kania mulai berkaca-kaca.
“Benar! Sekolah kita akan dijadikan Sekolah Paket C oleh pemerintah. Kamu tetap bisa
melanjutkan pendidikan tanpa harus keluar dari desa ini!”
“Alhamdulillah!” seru Kania, disambut syukur dari kedua orang tuanya.
Kania lantas bersujud syukur, menangis haru setelah mendapatkan kabar sangat baik tersebut.
Siapa sangka, gedung tua yang selama ini ia anggap tidak layak justru menjadi penyelamat masa
depannya. Tuhan benar-benar tak pernah tidur. Ia selalu ada untuk orang yang berdoa.
Oleh. Sfieroh
