Hari itu, langit sore di halaman belakang sekolah kita warnanya agak aneh. Bukan abu, bukan biru. Tapi yang jelas, rasanya pas banget sama perasaan kami yang campur aduk.
Aku, Lilia, duduk di atas rumput yang agak kering. Di sebelahku ada Kamila, sibuk mainin pulpen di tangannya sambil sesekali melirik langit, mungkin lagi mikir mau kuliah di negara mana. Di sisi lain, Nana lagi nyoret-nyoret buku tulis bekas matematika, nulis sesuatu yang nggak kami tahu apa. Sementara Eca? Dia seperti biasa, kelihatan tenang, tapi matanya nggak lepas dari layar HP. Dan Bella… dia duduk paling pojok, ngelipet-lipet kertas dengan rapi, kayak orang yang udah tahu banget mau ngapain dengan hidupnya.
Kami berlima, sahabat sejak awal SMA. Bukan geng paling populer, juga bukan yang paling nyeleneh. Tapi kami cocok—karena kami tahu gimana rasanya saling jadi tempat pulang, tanpa harus selalu sepakat.
Hari itu, kami sepakat nulis surat mimpi. Satu lembar kertas untuk satu hati. Apa yang pengin kami capai, jadi siapa, dan gimana kami ngebayangin hidup nanti setelah lulus.
“Ayo, kita simpan semua di dalam kotak ini,” kata Kamila sambil masukin kertasnya duluan.
“Dan kita buka… sepuluh tahun lagi?” tanya Bella.
“Sepuluh tahun,” jawabku.
Waktu itu aku kira sepuluh tahun itu lama banget. Tapi ternyata, waktu jalan terus, nggak peduli kita siap atau nggak. Satu per satu dari kami menempuh jalan masing-masing. Ada yang kelihatan gemilang dari luar, tapi nyimpen banyak tanya di dalam. Ada yang sederhana, tapi kuatnya luar biasa.
Dan sekarang… sepuluh tahun itu sudah sampai. Hari ini kami akan kembali ke halaman belakang sekolah itu—dengan kisah masing-masing yang nggak pernah kami bayangkan sepenuhnya dulu.
Kamu siap dengerin cerita kami?





Reviews
There are no reviews yet.